Peran Strategis Pengelolaan Sampah Plastik
Oleh: Andhika Wahyudiono
(dosen Utang-Bayuwangi)
Tantangan pencemaran plastik di lautan merupakan isu global yang semakin mendesak untuk diatasi.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh The Circulate Initiative, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada solusi terhadap pencemaran plastik di lautan di negara-negara berkembang, telah mengungkapkan wawasan yang signifikan tentang hubungan antara pengelolaan sampah plastik dan perubahan iklim di Indonesia.
Rilis laporan dengan judul “Keuntungan Iklim dari Pengelolaan Sampah Plastik di India dan Asia Tenggara” menggambarkan potensi besar yang terkandung dalam investasi pada pengelolaan dan daur ulang sampah plastik yang efektif di enam pasar regional, termasuk Indonesia.
Langkah ini dianggap sebagai salah satu strategi krusial dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) serta merespon dampak nyata perubahan iklim.
Dalam upaya mendukung temuan ini, The Circulate Initiative menggunakan data terkini dari Kalkulator Penilaian Daur Ulang Plastik untuk Lingkungan dan Masyarakat (PLACES).
PLACES merupakan alat kalkulasi dampak lingkungan yang pertama kali melacak emisi GRK, penggunaan energi, dan air yang terkait dengan pengelolaan serta daur ulang sampah plastik di seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Data yang dihasilkan oleh PLACES memberikan gambaran yang lebih konkret dan akurat mengenai dampak solusi pengelolaan limbah plastik di kawasan tersebut.
Umesh Madhavan, Direktur Riset The Circulate Initiative, menegaskan bahwa negosiasi yang tengah berlangsung mengenai international legally binding instrument (ILBI) terkait polusi plastik menyoroti urgensi dari solusi ekonomi sirkular.
Menurutnya, investasi pada pengelolaan dan daur ulang sampah plastik memiliki potensi untuk secara bersamaan mengurangi polusi plastik dan dampak perubahan iklim.
Sebagai negara yang menjadi salah satu pusat bocornya sampah plastik akibat infrastruktur yang belum memadai, Indonesia memiliki peran sentral dalam perjuangan global untuk mengatasi permasalahan ini.
Oleh karena itu, data yang akurat mengenai solusi pengelolaan sampah plastik di Indonesia sangatlah vital untuk merumuskan rencana tindakan yang efektif dalam mengatasi polusi plastik dan perubahan iklim.
Dalam konteks ini, Umesh Madhavan menyajikan beberapa poin penting yang dapat dipetik dari hasil penelitian ini.
Pertama, melakukan daur ulang terhadap seluruh sampah plastik yang saat ini tidak dikelola dengan baik di Indonesia hingga tahun 2030 berpotensi mengurangi emisi GRK sebesar 82,3 juta ton.
Ini setara dengan dampak mengeluarkan lebih dari 18,3 juta mobil dari jalanan selama satu tahun.
Kedua, melakukan daur ulang terhadap 100 persen sampah polyethylene terephthalate (PET) yang dihasilkan setiap tahun di wilayah Jakarta saja berpotensi mengurangi lebih dari 350 ribu ton emisi GRK.
Keadaan Indonesia menjadi semakin kompleks karena jejak karbonnya yang tinggi untuk setiap kilogram sampah plastik yang dikelola, seiring dengan tingginya angka pembakaran terbuka sampah plastik yang mencapai 48 persen.
Umesh Madhavan menjelaskan bahwa dengan hanya mengalihkan satu ton sampah plastik dari pembakaran terbuka ke proses pengumpulan dan daur ulang yang benar, lebih dari tiga ton emisi GRK dapat dihindarkan di Indonesia.
Selain itu, laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa melakukan daur ulang terhadap seluruh sampah plastik yang saat ini tidak dikelola dengan baik di India, Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam berpotensi mengurangi emisi GRK sebesar 229 juta ton pada tahun 2030.
Angka ini setara dengan menutup 61 pembangkit listrik yang menggunakan batu bara selama satu tahun.
Sejak diperkenalkan pada tahun 2021, PLACES telah menjadi alat yang berguna bagi perusahaan, investor, perusahaan daur ulang, penyedia layanan pengelolaan limbah, dan perencana kota.
Alat ini memberikan data yang spesifik dan akurat untuk masing-masing pasar, memungkinkan pengukuran dampak lingkungan dari intervensi pengelolaan limbah dan daur ulang.
Di tengah gejolak ketidakpastian yang diakibatkan oleh perubahan iklim yang semakin nyata dan peningkatan masalah terkait limbah plastik di lautan, riset dan temuan yang dihasilkan oleh The Circulate Initiative memiliki peranan yang sangat menonjol.
Mereka tidak hanya memberikan panduan yang jelas, tetapi juga solusi yang dapat diwujudkan dalam praktik.
Dengan mengadopsi pendekatan pengelolaan yang efisien dan menunjukkan komitmen dalam mengurangi dampak sampah plastik, Indonesia memiliki peluang yang nyata untuk memberikan pengaruh positif yang besar dalam menjaga integritas lingkungan dan merespon tantangan global yang berkaitan dengan perubahan iklim.
Hasil riset yang dipaparkan oleh The Circulate Initiative bukan hanya sekadar angka dan statistik. Mereka memberikan arah yang sangat penting dalam menghadapi isu yang kompleks ini.
Dalam dunia di mana perubahan iklim dan polusi plastik saling terkait, temuan ini menawarkan jalan yang dapat diikuti oleh pemerintah, perusahaan, dan masyarakat untuk melangkah menuju keberlanjutan yang lebih baik.
Melalui langkah konkret seperti pengelolaan yang efisien dan penerapan praktik daur ulang yang tepat, Indonesia memiliki kesempatan untuk memberikan dampak positif yang substansial.
Dengan mengurangi sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik, kita tidak hanya melindungi lingkungan dan ekosistem laut kita, tetapi juga mengambil bagian dalam upaya global untuk mengatasi perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.
Dalam hal ini, komitmen untuk menjaga lingkungan dan menurunkan jejak karbon dapat memberikan manfaat ganda. Dengan mengadopsi praktik berkelanjutan dan mendukung solusi ekonomi sirkular, Indonesia dapat menjadi contoh inspiratif bagi negara-negara lain.
Langkah-langkah ini tidak hanya akan memberikan dampak positif dalam jangka pendek, tetapi juga membantu membentuk masa depan yang lebih berkelanjutan dan berdaya tahan terhadap tantangan perubahan iklim yang terus berkembang. ***
