Proyek SPAM Bernilai Ratusan miliar Mengecewakan,Air Tersalur Macet Dikantong Produksi
Nelwan (detaknews.id) – Sigi – Menguak adanya indikasi ketimpangan program pemerintah perihal peningkatan pembangunan infrastruktur diberbagai sektor setelah pasca bencana alam 2018 silam, salah satunya adalah proyek pembngunan sistem penyediaan air minum (SPAM), lalu pelaksanaan kegiatan proyek itu diandilisasi oleh BWS Sulawesi III Palu Sulawesi Tengah, hingga kemudian pengelolaannya dikolaboratif oleh beberapa perusahaan BUMN.
Anehnya setelah proyek itu dinyatakan selesai pada 2023 yang lalu, akan tetapi runut pendistribusian air minum itu kini dikeluhkan masyafakat konsumtif dan menui sorotan pedas dari pemerhati
Munculnys sorotan itu berawal dari fase dilakukannya (water release) pelepasan SPAM dari intek kepipa (galvanized iron pipe) GIP jenis high density polytene (HDPE) untuk kemudian disistribusikan kepada seluruh warga konsumtif yang sebelumnya telah dilakukan pendataan secara masif.
Investigasi tim Media deadline-news.com, detaknews.id, diketahui bahwa munculnya keluhan dari sejumlah warga konsumtif atau para pengguna manfaat ketersediaan air minum itu akibat adanya ketimpangan dalam tata kelolah SPAM, tak hanya itu pengoprasian air tersebut terkesan dikelolah dengan serampangan sehingga membuat proses pengohan air PAM itu tak berjalan sesuai proporsi.
Menurut berapa orang warga Kecamatan Dolo Selatan dan Dolo Barat – Sigi yang meminta nama mereka tidak disebutkan, faktor utama yang menjadi keluhan mereka disebabkan karena akibat distribusi air minum itu tidak terkondisi dengan baik.
Telah hampir setahun belakangan ini pasokan air tersebut lebih sering mengalami macet, sehingga manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan.
Kami juga heran, padahal hadirnya SPAM dirancang bakal memenuhi kebutuhan dalam skala besar, dan diprioritaskan untuk masyarakat pengguna manfaat disejumlah Kecamatan Kab. Sigi dan Kot Palu, hanya saja pengaturan pasokan airnya tidak berjalan lancar dan berjung kecewa, “keluh beberapa orang warga menjawab awak media.
Tak hanya itu, realitas pengelolaan dan manfaat SPAM, secara siatimatis belum sepenuhnya efektif, meski wadah penampung air bersih itu di desain dalam skala besar dan kapasitasnya diperkirakan sesuai kriteria dan memenuhi kebutuhan konsumtif bagi pengguna manfaat didua Kabupaten Kota.
Lebih lanjut mereka menimpali, katanya proyek tersebut dikhususkan bakal menyanggupi kebutuhan pokok (air minum) bagi warga dibeberapa wilayah Kecamatan Kabupaten Sigi, namun kenyataanya sampai hari ini pembagian air itu diketehui tidak tersentuh dengan merata.
padahal keberadaan SPAM juga merupakan bebtuk kontributif pemerintah kepada masyarakat. Parahnya, sejak didistribusikannya air itu sampai hari ini malah terakses dengan baik, “ucap mereka dengan nada protes
Sorotan itu diperkuat oleh salah seorang anggouta Lembaga Pengawasan Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP-KPK) Sulawesi Tengah Syahrir Pakamundi mengatakan, terkait adanya indikasi ketimpangan dan soal keluhan warga konsutif penerima layanan sistem penyediaan air minum (SPAM) disejumlah Kecamatan yang ada di Sigi belakangan ini merupakan hal yang kursial yang harus disikapi dan kembali ditindak lanjuti oleh pihak pemerintah, pihak penyelnggara proyek serta penyedia jasa (kontraktor).
Anehnya, perlakuan (tretment) dari asas manfaat terkait penggunaan anggaran proyek itu seolah dibingkai dengan protek bernilai frasa yang mentereng, padahal dibalik sistem pengololaan pendistribusian serta pemanfaatan SPAM (sistem penuediaan air bersih) tersebut, diduga terjalin tawar-menawar berujung kesepakatan diluar rasionalitas, “ujar Syahrir
Buruknya mekanisme pengelolaan SPAM antara kebutuhan dan kepentingan
Kata dia, terkait pengelolaan proyek multi yers tesebut kini kian menjadi Polemik dimasyarakat, sebab salah satu kebutuhan primer itu pendistribuaiannya justru berbuntut kekecewaan. Betapa tidak proyek yang didanai dengan anggaran ratusan miliar itu idealnya diprioritaskan untuk menjamin dan memenuhi kebutuhan primer (konsumsi air) didua Kabupaten Kota yakni meliputi Kota Palu dan Sigi.
Sayangnya impek pendistribusian sistem penyediaan air itu, kini pengoprasiannya dianggap kurang spesifik, seminggu lancar, sebulan mati total atau tak berjalan seseuai harapan, secara teknis pembanguan proyek multi years itu ditengarai dipoles hanya sebagai sarana decak kagum antara para pelaku kegitan dan pihak penyelenggara proyek. Sehingga diyakini juga menjadi sekedar kebanggaan bagi penyedia jasa Kontraktor, maka pujian pun datang hanya sebagai instrumen pelengkap dan menjadi simbol kemegahan dalam pencapaian namun pasif, “ungkapnya.
Adanya faktor ketimpangan tata kelolah proyek dan keluhan masyarakat
Lebih lanjut Syahrir menguraikan, adapun total anggaran proyek multi years SPAM yang juga diplot didua titik jalaur yang berbeda yakni terdapat di Kabupaten Sigi dan Kota Palu itu dibandrol dengan pagu sebesar Rp. 555. 571.000.00 (Miliar)
Namun parahnya, secara sistematis pasokan air minum yang kini telah dioprasikan itu tak kunjung berjalan signifikan, dan juga dinilai tak sesuai harapan warga yang mayoritas tentunya mereka sangat berharap dan membutuhkan konsumsi air minum yang memadai.
Afiliasi proyek rehab rekon SPAM melekat di Kemntrian PUPR Ditjen Cipta Karya BPPW (Balai Pemukiman Prasarana Wilayah) Sulawesi Tengah dan Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Prasarana Pemukiman (PPP) Provinsi Sulawesi Tengah.
“Melalui program unggulan pemerintah setelah pasca bencana alam, maka salah satu yang diprioritaskan adalah proyek rekonstruksi sistem penyediaan air minum (SPAM), hingga program percepatan proyek itupun diproyeksikan dan diprogres sesuai aturan mainnya.
Sejauh ini Pemerintah melalui upaya inisiasi dan proyeksifitas serta upaya memfasilitasi progres pemetaan proyek yang akan digeber, melakukan percepatan pembangunan dalam skala prioritas, untuk bangkit dari keterpurukan, disebabkan akibat traumatik bencana alam dasyat gempa, tsunami dan likuifaksi sejak 6 thn yang silam, “pungkasnya.
Dia juga Menambahkan, pemerintah harus lebih bijak dan tentunya dengan harapan agar menyikapinya dengan penuh rasa tanggung jawab.
Upaya perbaikan yang dilakukan pemerintah setelah pasca tragedi bencana alam gempa, tsunami dan likuifaksi 6 tahun yang silam, bertujuan memulihkan kembali stabilitas ekinomi dan menata ulang pembangunan infrastruktur dalam skala prioritas diberbagai sektor, tentunya lebih cenderung kearah pemerataan kemaslahatan, dengan spesifikasi penyelarasan serta melakukan penataan ruang dan perbaikan ulang fasilitas umum yang lebih tearah dan terealisir.
“Jika mengacu pada sensitifitas kebutuhan pokok hidup masyarakat atau kebutuhan konsumsi primer, maka penggunaan fasilitas SPAM (sistem penyediaan air minum) yang meliputi 2 Kabupaten Kota di wilayah kota Palu dan Kabupaten Sigi itu, result pergerakan proyeknya dinilai masif namun, dalam sistem tata kelolahnya juga meimbulkan tanda tanya, terkait ketidakseimbangan pengelolaan dan distribusi air yang dialiri melalui lobang pipa-pipa raksasa (GIP) itu, heranya mengapa tidak terkases dengan baik, bahkan kehadirnya pun cenderung jauh dari harapan, “lanjutnya.
Sayahrir menguraikan. bahwa proyek tersebut melalui pengawasan ketat dari liding sektor Balai Wilayah Sungai (BWS) III Palu Sulawesi Tengah, yang mengemas proyek itu dalam paket proyek Construksion Of Water Distribution Pipe And House Conection Zone 1 – Zone 2 (COWDPHCZ)
Diduga tak sesui harapan masyarakat kinsumtif
Runut pengelolaan proyek itu juga melibatkan sejumlah entitas perusahaan BUMN lalu kemudian dlebeli dengan paket Proyek Contruction Of Water Distribution Pipe And House Conektion Zone 1 – Zone 2, yang difasilitasi atas pinjaman dana dari luar negeri atau advis Loan Asia Develoment Bank (ADB) dengan total anggaran keseluruhan sebesar Rp. 555.571.000.000.00 (milyar) Kementrian PUPR Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu Sulawesi Tengah,” urainya.***
