Sekcab IMM kota Palu menilai, Subtansi Bus Trans Palu Hanyalah Halusinasi: Peminat Terdegradasi, Keuntungan Ekonomi Daerah Tereliminasi
Apakah ini Investasi kepentingan sebuah Aliansi?
Ilong (detaknews.id) -Palu – Sekretaris Cabang IMM Kota Palu sekaligus Aktivis Muhammadiyah (Naim), lagi – lagi mengkritisi Program BRT Bus Trans Palu. Ia menilai Bahwasanya Program Bus Trans Palu tidak memiliki Urgensi, justru melahirkan dampak ekonomi yang cacat, Rabu, (20-07/2025).
Sejak 2024 Pemerintah kota palu sudah mengalokasikan anggaran dari APBD yang cukup besar untuk Program ini. Namun Aktivis Muhammadiyah menilai ini sebuah pemborosan.
“Ketika Pemborosan anggaran terjadi disitulah pajak menghantui,” ujar Naim.
“Peran Mahasiswa sebagai agen kontrol sosial, harus teliti dan jeli melihat Kebijakan maupun program dari pemerintah,” tuturnya.
Sekcab IMM Kota Palu itu juga menegaskan bahwa mereka menolak apatisme dan skeptis dari program tersebut.
“Sebagai insan Akademisi, maka kami selaku mahasiswa menolak keras Apatis dan Skeptis terhadap Program ini, serta Mencegat terkait rencana ingin kebiri Akal Sehat maupun Nalar Kritis kami,” pungkasnya.
Ia menilai Program BRT Bus Trans Palu ini bukan hanya pemborosan anggaran, namun juga sebagai sebuah tipu daya publik karena demi kepentingan.
Naim juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang mereka peroleh, APBD Perubahan 2024 dan APBD 2025 melalui RKPD serta Biaya Operasional Bulanan mencapai Rp, 1,8 Miliar. Maka jika dihitung sampai hari ini, secara Komprehensif anggaran sudah menyentuh Puluhan Miliar.
“Awalnya peminat Bus Trans Palu ramai karena (Gratis), namun secara Signifikan menurun dan endingnya sepi Laksana Kuburan,” imbuh Naim
Lebih lanjut, Aktivis dari IMM Kota Palu itu juga menerangkan terkait dengan aturan oleh Pemkot Palu yang Mewajibkan ASN menggunakan Bus Trans Palu minimal dua kali dalam seminggu dengan tujuan mendorong penggunaan transportasi umum dan mengurangi kemacetan di Kota Palu.
“Saya pikir ini bukan solusi yang kongkret, karena pemborosan anggaran konsisten mencaci-maki, sementara kursi megah bus kurang diduduki,” imbuh Naim
Naim juga menambahkan bahwa semua program ini ada indikasi keterlibatan dan kepentingan segelintir orang, bahkan digunakan untuk kepentingan politik saja.
“Saya sebagai Mahasiswa mendalami serta mengindikasikan menjadi satu klimaks kesimpulan bahwasanya ada kepentingan Aliansi dibalik Program ini,” jelasnya.
“Bagaimana mungkin dengan Anggaran Operasional Bulanan sebesar Rp. 1,8 Miliar disandingkan dengan Hasil Keringat Bus Trans Palu sebesar Rp. 100 – 400 Juta, tetapi Program Ini terus-menerus Dilakukan ?. Pun demikian, menafsirkan ke alam Pikiranku Program ini ini juga tidak terlepas dari kepentingan Politik,” tukasnya.
Seperti yang kita ketahui bersama, Program Bus Trans Palu diresmikan Tanggal 21 September 2024 berjarak
(dua) Bulan sebelum pemilihan Walikota Palu 27 November 2024.
“Artinya Program BRT Bus Trans Palu ini tidak benar – benar siap, melainkan sebatas tipu daya untuk kepentingan Sepihak,” papar Sekertaris Cabang IMM Kota Palu itu mengakhiri pendapatnya.***
