Janji Perbaiki Huntap Sibalaya, Hingga Kini

Nelwan (deadline new.com) SigiSulteng – Terkait janji pemerintah akan merekonstruksi hunian tetap (Huntap) di desa Sibalaya Utara/Selatan, kec. Tanah Mbulava Sigi, hingga kini tak kunjung dibangun.

Priha hunian tetap (huntap) yang dijanjikan pemerintah stelah pasca bencana alam pasugala, dalam hal ini Pemukiman Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) provonsi Sulteng.

Relokasi lahan bakal rekon huntab yang sedari dulu dijanjikan pemerintah tersebut, terletak di desa Sibalaya Utara 64 unit (huntab) sedangkan di desa Sibalaya Selatan 130 unit (huntab) kini telah memasuki tahun ketiga pada Agustus 2022 saat ini tak kunjung dibangun.

Pantauan deadline news.com group detak news.id Jumat (26/8-2022), di area relokasi tempat yang akan di rekonstruksi (huntab) yaitu, di dua titik, masing-masing di desa Sibalaya utara/selatan.

Nmaun yang paling miris dan memprihatinkan kondisi bangunan hunian sementaranya (huntara) yakni, terdapat di Sibalaya selatan, dimana bangunan huntara itu berjumlah 10 unit dan satu unit tempat ibadah (mushala).

Tiap-tiap slackter terdapat 10 bilik, dan total keseluruhan masing-masing bagian bilik di slackter itu, sejumlah 100 pintu yang juga dihuni oleh 100 kepala keluarga (KK) warga desa setempat.

Yang mana fisik dan ukuran tinggi banganannyapun tampak sesak dan pendek, tinggi huntara itu kurang lebih 2,80 meter, belum lagi ukuran bilik, panjang x lebar hanya 6×6 meter persegi perbilik yang di tempati pekepala KK besama anak-anak mereka.

Menurut Erfina dan Sudarmiwati keduanya adalah warga desa Sibalaya Selatan, dimana kedua ibu rumah tangga itu tinggal bersama sanak saudara serta keluarganya, telah empat taunun menghuni huntara itu, “tutur kedua wanita itu.

Namun papar keduanya, huntara yang kami tinggali ini, kondisi rumah huntara sudah sangat memprihatinkan, apa boleh buat, keluarga kami harus tinggal dimana lagi, sedangngkan harta benda kami seketiak sirna, habis akibat dipora-porandakn pasca bencana alam gempa dan likuifaksi empat tahun silam, “kenang kedua ibu muda itu.

Mengenai kondisi hidup dan keseharian kami dalam huntara itu, ujar keduanya, jikalau siang hari kami tidak betah dalam bilik huntara, sebab hawanya sangat pengap, juga sesak, sehingga kami serta anak-anak lebih memilih rehat diluaran, apa lagi saat ini lagi musim hujan, akibat kondisi fisik huntara, terkhusus ubinnya sudah sejajar dengan tanah, sehingga ketika turun hujan deras, air hujan meluber hingga masuk kedalam bilik huntaara, “keluh keduanya.

“Kami selalu berharap, agar seyogyanya pemerintah pekah terhadap kondisi sosial masyarakatnya yang sudah cukup lama hidup dihuntara, tak putus harapan agar pemerintah mendengarkan aspirasi kami ini,” pemerintah jangan hanya janji tinggal janji, sebab, sangat besar harapan kami manakala pemerintah segere merealisasikan pembangunan huntab di desa kami, “harap keduanya.

Hal senada dikatakan mantan Kepala Desa (eks wartawan) Abdul Gafur yang juga selaku tokoh masyarakat di desa setempat, menurutnya, mengenai rekonntruksi huntap korban pasca bencaba alam pasigala (likuafaksi) di desa Sibalaya Selatan tersebut, pemerintah telah merealisasikan penetapan penjadwalan secara tehknis, dan juga telah merelokasi tempat yang bakal kelak dibangun huntab, “kata Gafur.

Akan tetapi, dalam bebrapa kali asesmen PUPR prihal rekon huntap terus digaungkan dan tampak hanya menjadi acuan materi dalam agenda prifatisasasi belaka, bahkan repersentatif dari pihak PUPR itu sendiri telah mengestimasi anggaran, namun untuk pelaksanaan proyek huntap tak kunjung terlaksana.

Akan tetapi kabar angin itu “berhembus riuh terdengar lirih, bahwa bulan November 2022 tahun ini akan dimulakan, “ternganya.

Namun disisi lain ujar Gafur, lokasi dimana yang telah ditetapkan oleh PUPR sangat stragesis, walau agak sedikit landai diatas ketinggian, cuma ada hal lain, secara harfiah kawasan itu masih dalam struktur pengawasan para ahli badan meteriologi kilimatologi dan geofisika (BKMG), “ungkapnya.

Bahkan menurut hasil penitian para ahli dari mnca negara yaitu, Jepang dan Eropa, titik koordinat zonasi, tervokus di kawasan Sibalaya selatan termasuk area likuifaksi dan sekitarnya, ungkap Gafur, area tersebut adalah poressur zonasi, “bebernya.

Namun itu tak jadi hambatan untuk pembangunan huntap, “soal hidup dan mati kita serhakan pada Allah, dialah yang maha kuasa atas segalanya”, pinta, gafur.

“Karena harapan saya dan warga desa yg juga korban bencana alam likuifaksi tinggal dihuntap audah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan, ” imbunya.

Hanya dengan tekat dan semangat hidup, sehingga kami yang bertahan hidup dihuntara ini, sudah terlalu lama merakan getir pahit setelah pasca bencana alam, “hingga banyak relawan, baik pemerintah maupun swasta dengan rasa kemanusiaan, dan rasa rempati banyak menyalurkan bantuan pada kami di huntara ini, satu hal lagi, kami berharap agar janji manis pemirintah “semoga terlaksana tahun ini, “tutpnya memprotek harapannya.***

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *