Mediasi di KONI Kota Palu Buntu, PTMSI Kota Palu Diduga Tebang Pilih Seleksi Atlet Tenis Meja Menuju Porprov Sulteng

Ilong (detaknews.id) – Palu – Mediasi antara Perkumpulan Tenis Meja (PTM)/Klub Tenis Meja dengan Pengurus Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kota Palu di Kantor KONI Kota Palu berakhir buntu tanpa solusi. PTMSI Kota Palu diduga bersikap tebang pilih dalam menjaring atlet yang akan mewakili Kota Palu pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tengah di Kabupaten Morowali mendatang.
Buntut dari karut-marut penyeleksian atlet yang dinilai tidak transparan dan tertutup ini langsung memicu reaksi keras serta tanda tanya besar dari para pembina PTM di Kota Palu, Kamis (29/10/2026).
Pasalnya, batas akhir penyetoran berkas atau nama-nama atlet untuk mengikuti Porprov Sulteng dijadwalkan tutup pada 30 Oktober 2026. Namun hingga kini, belum ada kepastian maupun tanggapan lanjutan dari PTMSI Kota Palu terkait nasib atlet-atlet binaan PTM yang merasa tidak pernah mendapat informasi terbuka mengenai alur seleksi tersebut.
Ketua Harian PTMSI Kota Palu, Muhammad Rizal, saat dikonfirmasi berdalih bahwa penjaringan atlet bersumber dari Pekan Olahraga Kota (Porkot) di tiap-tiap kecamatan.
Menurutnya, mereka yang tidak ikut Porkot otomatis tidak terdaftar sebagai atlet yang lolos seleksi tingkat kecamatan untuk menuju Porprov.
“Kemarin kami sempat menerima surat pemberitahuan dari KONI, bahwa akan dilaksanakan Porkot sebagai bentuk seleksi atlet-atlet di tiap kecamatan untuk diseleksi kembali mewakili Kota Palu berlaga di Porprov Sulteng di Morowali,” ungkap Rizal.
Rizal mengeklaim persoalan ini hanya berakar dari miskomunikasi. Ia berjanji akan menjadwalkan kembali pertemuan lanjutan dengan menghadirkan Ketua Umum PTMSI Kota Palu agar bisa memberikan keterangan resmi.
“Ini juga hanya miskomunikasi sehingga terjadi hal seperti ini. Kami akan mengatur kembali pertemuan ini dengan pimpinan agar Ketum PTMSI Kota Palu bisa memberikan keterangannya,” tutur Rizal.
Menanggapi alasan tersebut, Koordinator Atlet PTM Cabor Tenis Meja, Siti Djulaiha, S.Sos., M.Si., yang akrab disapa Nona, dengan tegas membantah pernyataan pihak PTMSI.
Menurutnya, apa yang terjadi bukanlah sekadar miskomunikasi, melainkan indikasi kuat pengaburan informasi secara sengaja.
“Jujur, kami tidak pernah diberitahu jika Porkot itu dijadikan wadah seleksi. Yang kami ketahui hanya ada pelaksanaan Porkot oleh KONI Kota Palu tanpa ada penjelasan lanjutan mengenai fungsi seleksi ke tingkat Porprov,” tegas Nona.
“Tentunya ini sangat merugikan atlet-atlet yang selama puluhan tahun kami bina dengan keringat sendiri, tiba-tiba tidak diberikan kesempatan untuk berlaga serta membuktikan prestasinya,” sambungnya dengan nada kecewa.
Nona membeberkan, PTMSI terindikasi kuat tebang pilih dalam penyebaran informasi krusial tersebut, sehingga banyak atlet berprestasi di bawah naungan PTM tidak diberi ruang untuk mengikuti tahapan seleksi.
“Ini menyangkut nasib atlet potensial. Kami menyurat secara resmi, tetapi hanya dibalas pesan singkat di WhatsApp. Kami menuntut transparansi dan keterbukaan informasi publik dari pihak PTMSI Kota Palu melalui KONI Kota Palu sebagai wadah mediasi,” ujarnya tegas.
Ia menambahkan, pembinaan atlet membutuhkan komitmen moral serta anggaran yang tidak sedikit. Keputusan sepihak tanpa dasar regulasi yang transparan ini dinilai sebagai langkah mundur dan merugikan investasi pembinaan olahraga di ibu kota provinsi ini.
Nona mendesak agar KONI Kota Palu bersikap adil, fair, dan profesional terhadap PTMSI Kota Palu dengan mengedepankan asas keadilan tanpa membeda-bedakan klub tempat atlet berlatih. Secara aturan administratif, seluruh atlet berprestasi dan berpotensi seharusnya berhak dipanggil mengikuti tahapan seleksi terbuka. Terlebih, Kota Palu saat ini masih minim sumber daya atlet potensial di cabor tenis meja.
“Jika mengacu pada aturan administratif, seharusnya semua atlet diakomodasi untuk mengikuti seleksi. Aturan mana yang dipakai PTMSI Kota Palu sehingga membatasi hak atlet untuk ikut seleksi? Harusnya buka ruang seluas-luasnya,” tambah Nona.
Menutup keterangannya, Nona bersama jajaran pelatih dan atlet merumuskan secara resmi surat pernyataan sikap yang memuat tuntutan mendesak kepada pihak terkait:
- Meminta kepada KONI Kota Palu dan PTMSI Kota Palu untuk memberikan penjelasan secara terbuka, transparan, dan tertulis, mengapa sejumlah atlet berprestasi yang berdomisili di Kota Palu tidak dipanggil untuk mengikuti seleksi. Apa alasan dan dasarnya ?
- Menuntut agar KONI Kota Palu dan PTMSI Kota Palu memberikan solusi konkret termasuk rekomendasi resmi/surat pelepasan bagi atlet-atlet tersebut untuk dapat bermain mewakili kabupaten lain di Sulteng pada ajang Porprov, sehingga mereka tetap bisa membela Sulawesi Tengah di ajang Nasional dan masa depan atlet tidak dimatikan.
- Meminta KONI Kota Palu dan PTMSI Kota Palu untuk membuka ruang dialog dan melakukan penjaringan/seleksi ulang yang adil serta terbuka secara administratif bagi seluruh atlet berpotensi, mengingat batas akhir penyetoran berkas pendaftaran atlet pada 30 Oktober 2026 masih menyisakan ruang untuk perbaikan data peserta.
- Menuntut agar pihak PTMSI Kota Palu memberikan kejelasan status dan solusi konkret bagi para atlet binaan PTM yang baru saja menorehkan prestasi membanggakan di ajang Kejurnas mewakili Provinsi Sulawesi Tengah, agar hak-hak prestasi mereka dihargai dan tidak dikorbankan akibat lemahnya sosialisasi serta transparansi informasi seleksi.
“Tolong juga pihak KONI Kota Palu dan PTMSI Kota Palu memberikan solusi bagi atlet-atlet kami yang telah menuai prestasi di kejurnas mewakili Sulawesi Tengah kemarin. Jika memang tidak bisa mewakili Kota Palu, tolong keluarkan surat rekomendasi agar bisa mewakili kabupaten lain selama tidak di luar Sulteng,” pungkas Nona.***

