AlamKotaUtama

Adat dan Persatuan: Kunci Menjaga Kelestarian Alam dan Hak Masyarakat Adat

Fahril (detaknews.id) Palu – Majelis Pemuda Adat (MPA) Poboya menggelar “Kuliah Publik” dengan menghadirkan aktivis lingkungan, Rocky Gerung, bertemakan “Ekologi Lingkungan, Hak Ulayat, dan Masyarakat Adat” pada Senin, 22 April 2024, pukul 16:00 WITA di kawasan pertambangan Citra Palu Mineral (CPM), Sulawesi Tengah.

Di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi, adat istiadat menjadi bahasa baru untuk merajut kembali ikatan organik antar individu dan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Rocky Gerung dalam kuliah publik yang diselenggarakan oleh MPA Poboya.

Menurut Rocky, adat istiadat bukan hanya sebatas tradisi, tetapi juga merupakan pedoman hidup yang sarat makna dan nilai-nilai luhur. Adat mampu memperkuat rasa persatuan dan kesatuan, serta menjaga kelestarian budaya bangsa.

“Adat menjadi bahasa baru untuk menghasilkan kembali ikatan-ikatan organik, di Indonesia justru lembaga adat itu yang mampu untuk mengembalikan nobility kemuliaan dari bahasa ini”, ujar Rocky Gerung.

Lebih lanjut, Rocky Gerung mengungkapkan rasa harunya atas ketulusan dan kejujuran masyarakat dalam memperjuangkan kelestarian alam. menekankan pentingnya persatuan dan kerjasama dalam menjaga kelestarian alam. Menurutnya, perjuangan ini bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi harus melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Sejauh-jauhnya saya terangkan filsafat ekologi, sejauh-jauhnya saya menerangkan tentang kerusakan planet, tetapi hati nurani teman-teman itu yang membuat saya bisa rasakan ada ketulusan mengundang saya kesini, ada kejujuran untuk bercakap-cakap, dengan orang yang bahkan bukan bagian dari masyarakat sini, tetapi kita dipersatukan oleh nyawa alam semesta dan nyawa itu yang kita pertahankan sampai keadilan kita tunjukkan”, tutup Rocky Gerung.

Selain itu, Sekretaris Jendral MPA Poboya mengharapkan ada keadilan bagi masyarakat Poboya.

Rocky Gerung tiba di Kota Palu pukul 12:15 WITA dan kemudian langsung melanjutkan perjalanan menuju Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore untuk memberikan kuliah publik tersebut. Setelah memberikan kuliah publik, Rocky Gerung kemudian menanam pohon bersama tokoh masyarakat adat di Poboya.

Rocky Gerung menegaskan pentingnya perlindungan hukum bagi mereka yang memperjuangkan hak lingkungan di Indonesia. Ia menyatakan bahwa meskipun saat ini Indonesia belum memiliki undang-undang yang secara eksplisit melindungi para pejuang lingkungan, namun tren global menunjukkan pergeseran ke arah tersebut.

“Di tingkat dunia ada perubahan tentang hukum lingkungan, sekarang, mungkin nanti sebentar lagi kita akan dipaksa untuk klarifikasi aturan itu bahwa setiap orang yang mempertahankan lingkungan dan memperjuangkan hak lingkungan tidak boleh dipidana”, ujar Rocky Gerung.

Rocky mencontohkan kesepakatan PBB yang melindungi mereka yang memperjuangkan hak atas lingkungan. Ia meyakini bahwa hakim-hakim di Indonesia akan mempertimbangkan hukum internasional ini, meskipun belum dikodifikasi dalam hukum nasional.

Menurutnya, hukum pidana tidak boleh digunakan untuk menjerat para pejuang keadilan. Ia mencontohkan negara-negara di Eropa dan Amerika yang telah menerapkan prinsip ini. Ia berharap Indonesia akan segera mengikuti langkah tersebut.

Aktivis lingkungan ini juga menekankan pentingnya dorongan moril bagi para pejuang lingkungan, terutama dalam memperjuangkan keadilan di pengadilan. Ia berharap masyarakat dapat bersatu untuk melindungi ekologi Poboya dan mencegah kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh manusia.

“Saya berharap teman-teman di Poboya punya kemampuan untuk menghasilkan dorongan moril, minimal bahwa keadilan itu harus dibuktikan bahkan didepan sidang pengadilan”, kata Rocky Gerung

Rocky Gerung meyakini bahwa kegiatan ini merupakan simbol persatuan masyarakat dalam melindungi lingkungan. Ia berharap alam yang ditumbuhkan dan dirawat oleh alam tidak dirusak oleh manusia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *